oraiit,,,lamaa sekali gue ga nulis blog :D ini efek apa yaaa?
terakhir yang gue posting cuma re-post dari orang aja..biar ga sepi-sepi amat di tahun 2013 ini blog gue..
hahaaa
aktivitas gue 1 semester terakhir ini *alias 6bulan lamanya* adalah mengerjakan skripsi yang tak kunjung entah dimana ujungnyaaaaa~~
bahan ada, sudah mengerti maksud dari materi skripsi gue sendiri..
hanyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa sajaaaaa
terlalu banyak "X factor" berlalu lalang di sekitar gueee...
tapi tetep bersyukur karena dibalik x-factor itu mungkin Allah punya segudang rencana buat guee...wlopun sampe sekarang gue ga tau apaa ituu...let see ..di masa yang akan datang..
masih agak gerah karena ingin cepat lulus,,
ingin segera menunaikan dan menuntaskan amanah orang tua untuk menjadi sarjana..
tapi yaa mungkin ini lah prosesnya...
dengan serba banyak berlatih sabar dan memanage otak hati juga kondisi fisik serta kehidupan sosial yang lain agar masih tetap seimbang pada tempatnya..
menginginkan 1 impian terdekat itu segera terwujud,
menahan diri dan melawan keinginan sendiri itu memang melelahkan,
gue ga pernah dituntut lulus cepat oleh orang tua,
tapi, tuntutan dari diri sendiri itu yang sangat menyiksa...
(~_______________~)
hope everythings gonna be alright.........
Tuesday, February 19, 2013
Tuesday, January 29, 2013
S-a-r-j-a-n-a : dilemma
entah mengapa ingin sekali me-repost artikel ini :)
mungkin karena saya sebentar lagi sarjana ya..hehe
smoga bermanfaat untuk saya dan pembaca blog saya..
dengan harapan saya juga akan menjadi sarjana secepatnya...aaamiiinnnn
Sarjana Semestinya Bermartabat! Risalah Sarjana,
oleh *Sartika Dian Nuraini dimuat oleh harian Kompas, 16 Januari 2013 ———-
Sarjana Semestinya Bermartabat! Risalah Sarjana,
oleh *Sartika Dian Nuraini dimuat oleh harian Kompas, 16 Januari 2013 ———-
Sarjana adalah potret terang di depan kamera. Ia menyungging senyum semringah, memakai toga dan baju kebesaran, dengan latar belakang lukisan buku-buku berjilid klasik yang sangat jarang ada di Indonesia, ditambahi kehangatan senyum anggota keluarga. Foto itu kelak adalah tanda sejarah yang meneguhkan keberadaan hingga prestise seseorang, bahkan seluruh keluarganya. Klik!
Kesarjanaan adalah perayaan kerumunan dan keramaian, pengeras suara, acara makan bersama, dan doa. Dalam proses pengesahan seorang sarjana dalam wisuda. Kegirangan dan keceriaan dengan mengabsenkan keheningan dan kekhusyukan.
Perayaan kesarjanaan bukan perayaan literasi.
Kata-kata tidak lagi menjadi pengesahan kesarjanaan sebagai bentuk sumbangan pemikiran bagi peradaban. Setiap tahun, ribuan orang boleh saja ditahbiskan menjadi sarjana, tetapi sungguh sangat sedikit yang akan meninggalkan kata-kata yang berharga hasil permenungan, pengendapan dalam pikiran, dan kegelisahan intelektualitas kesarjanaan. Tak ada tagihan moral dan akademis tentang keilmuan, intelektualitas, kecendekiaan, serta kemanusiaan yang bersifat sosial, politik, pendidikan, dan budaya.
Manusia ekonomistik
Sebagai gantinya, menjadi sarjana adalah menjadi manusia ekonomistik. Sarjana adalah manusia pencari dan pencetak uang bagi keluarga, masyarakat, dan negara. Maka, pengesahan dilakukan dengan mencari kerja. Pengukuhan seseorang menjadi sarjana disempurnakan dengan menjadi pekerja. Kutukan seorang sarjana jika dirinya menganggur. Orangtua, lembaga pendidikan, masyarakat, dan negara akan menagih seorang sarjana untuk cepat-cepat menjadi manusia pencari kerja. Maka, para sarjana bergerak dan berjejal menjadi manusia pelamar kerja dalam bursa kerja.
Dalam kerumunan di bursa kerja ini, tak perlu lagi membedakan latar belakang studi sastra, teknik, politik, sejarah, dan lain-lain. Tak penting ilmu yang mereka pelajari di kampus selama beberapa tahun, toh perusahaan juga sadar bahwa sarjana itu harus dididik lagi agar sesuai dengan dunia kerja.
Di Indonesia, menjadi sarjana adalah menjadi manusia kota dan menjadi manusia kantoran. Dalam imajinasi mereka, sarjana adalah manusia tanpa keringat, manusia yang enggan melipatkan lengan baju ke atas, manusia yang enggan menyentuh tanah.
Biografi sarjana Indonesia mengesankan bahwa menjadi sarjana adalah manusia yang enggan pulang membangun tempat asalnya.
Soedjatmoko (1972) pernah mengatakan, ”Lulusan universitas-universitas di Indonesia makin lama makin berorientasi pada kota-kota. Harapan mereka tentang karier, tingkat hidup, serta gaya hidup seolah-olah terikat pada kota. Padahal, sudah menjadi terang bahwa sebagian kemampuan kita harus kita memanfaatkan tidak hanya untuk memperluas sektor modern, tetapi juga untuk menggairahkan kembali dan memperkuat kehidupan di desa-desa.”
Masuk perguruan tinggi adalah jalan meninggalkan desa-desa dengan menjadi manusia kantor mewarisi rasa elite-birokrat yang priayi.
Namun, saat bekerja, sebagian besar makna kerja perlahan mulai menghilangkan rasa kemanusiaan, keilmuan, religiusitas. Semua hal yang sakral dan vital itu akan terpinggirkan oleh pamrih uang dan gengsi sosial. Kerja yang merakyat dianggap merendahkan. Mereka alpa makna bekerja.
Kehilangan martabat
Makna pendidikan dalam bekerja terasa kabur dan dangkal. Latar belakang dan jenjang pendidikan di Indonesia sepertinya sudah tidak memartabatkan.
Kita telah kehilangan figur sarjana dalam arti keilmuan dan pengabdian sebagai laku kesarjanaan. Suluh dan risalah pemartabatan manusia menguap dalam mentalitas dan etos kesarjanaan yang kian memudar dan buram. Sarjana kini adalah hamba ekonomi dan bisa melakukan apa pun untuk memenuhinya, menjual martabat ilmu, menggadaikan kemanusiaan, dan mengubur etos belajar.
Saya teringat sajak Agus R Sarjono berjudul Sajak Palsu yang ditulis tahun 1998: ”Masa sekolah demi masa sekolah berlalu, mereka pun lahir sebagai ekonom-ekonom palsu, ahli hukum palsu, ahli pertanian palsu, insinyur palsu, sebagian menjadi guru, ilmuwan atau seniman palsu.” Sarjana semestinya bermartabat!
*Penyair, Anggota Bale Sastra Indonesia-Solo
link : http://www.kopertis12.or.id/2013/01/16/sarjana-semestinya-bermartabat.html
Thursday, July 26, 2012
the beginning
bulan puasa horeeee ^^)//
dan alhamdulillah banget..
tahap akhir sebagai seorang mahasiswa akan mulai dijalani..
Tugas akhir sudah akan dimulai guys!!
haha
sudah menemukan bidang yang cocok,
tema yang pas,
serta dosen pembimbing yang emmmm....memotivasi dengan sangat juga pengertian :D
i'm ready to work!
doakan selesai cepat...
biar MARET 2013 akan menjadi hari bersejarah buat gue...
menjadi SARJANA TEKNIK ...
hihi
thank you :*
Monday, March 26, 2012
berkicau tentang saat ini
semester 8, semester ahir *harusnya
tapi menjadi semester yang isinya paling ga jelas buat dompet..
alias paling pengangguran dari semester-semester kemarin,
dan mengakibatkan isi dompet cepat habis dan menghilang entah kemana,,
lalu,
beban otak kembali bertambah,
bertambah stress..
karena PKL yang selalu saja menghantui pagi hari hingga malam hari,
yang tak kunjung mendapat jawabannya..
poor me,,
mungkin sudah tidak lagi dijadikan penderitaan sebuah PKL,,
tapi menjadi sebuah keseharian yg aktivitas nya tak kunjung usai..
mengontrol sebuah semangat untuk menyelesaikannya bukanlah hal yg mudah,,
ketahuilah setan perayu malasnya lebih berkuasa,,
sekarang aja baru bisa bikin peta lintasan sama peta geologi..
draft laporannya belomm,.
haduuhh..
pengen cepet seminar..
cepet beres..res..res..
MEI GUE SEMINAR!!! HARGA MATI !!!!
Thursday, November 10, 2011
deadline semu
pekerjaan menjadi mahasiswa semester semester ujung kaya gini adalah pengangguran ngabisin duit d awal bulan, yang sangat menyiksa kehidupan d awal bulan itu *sigh
bingung sendiri dengan sikon keuangan yang ga stabil kaya ginih,
pengennya kerja, tapi kerja apa,
pengen bisnis, modalnya kudu banyak,
mau jadi penyiar,
haduh..kota ini sangat tidak mendukung dunia penyiaran
dan lagi lagi *sigh
damn! knapa terdampar d kota yang menyulitkan yah?
*bagian ga bersyukurnya gw*
oke, cukup dengan keluhan kehidupan nya.
sekarang mengeluh tentang kuliah,
dan..weell..kuliah gw oke,prospeknya juga oke,gw nya, not in the mood..
kuliah oke,tugas males,ujian ngaco.
apaa coba yang dharepin klo pnya kemalasan yang begitu menggebu d benak diri?!
ada apa yah sebenernya yg bikin gw kehilangan semangat?
kenapa yah?
padahal, proposal PKL gw udah d mintain dari bulan kemarin sm dosen pembimbing,tapi mood bwt ngerjain proposalnya ga ada sama sekali,
ya Allah,,
tobat deh gw begini caranya mah...
nyiksa banget..
kewajiban harus segera dpenuhi,tapi hak menuntut dlakukan mulu..
hadeh...
*tepok jidat*
*cengo*
*masuk sumur*
pengen autis,
ga bisa,
susah,
maunyaa gimana sih otak hati dan raga inih?
meni ga sinkron gini...
bingung atuh bingung gw teh.,.
minta tolong,minta tolong sapa?
cuma diri sendiri aja sekarang mah yang bisa bantu.
tapi,
ya kembali lagi..
my body is not in the mood
astaghfirullahaladzim
apaalagii cobaaa..
harus gimanaaahh....
cuma bisa sujud ini mah,,ga tau mesti gmna..
hopeless banget.
ngerasa ga mampu,
ya Allah..
ga mau ngadepin yg beginian,,
bingung.... :((
Monday, October 24, 2011
SKIP SEMESTER 7 DAN 8 !!!
udah ngelewatin Kuliah lapangan, harus berhadapan dengan PKL,,mapping lagi lagi dan lagi..
kayanya sedikit penuh tekanan yah diriku ini..
sampai ahirnya harus pulang untuk waktu yang lumayan lama smggu meninggalkan kampus beserta urusannya..
termasuk mengurusi urusan PKL..
sudah termasuk dikatakan dewasa, dengan berbagai macam tuntutan dalam 1 waktu,
dengan menghadapi realita pertemanan yang sudah tak seindah yang dikatakan pada jaman putih abu dahulu,
dan dengan kompleksitas kehidupan yang kian menekan,
YES, I'm adult now..
oh my god..
menjadi dewasa tentu keinginan setiap remaja, tapi setelah menjadi dewasa seperti ini menjadi memuakkan untuk diimpikan
YOU KNOW WHAT and WHY?
smua masalah lo bakal timbul secara bersamaan, dan smua adalah penting untuk diselesaikan
karena smua meminta pertanggungjawaban dan keputusan lo.
istilahnya mah hidup mati lo ada di tangan lo sendiri..
*glek!
pusing mumet muntah dunia berasanya sempit,
lo berasa pengen lari dari kenyataan yg ga lo sukain ini,
yaaa..
gw ngerasaain smuanya itu kemarin,
dsaat otak dan hati gw menjadi sempit dan ga terbuka..
alhamdulillah semenjak pulang, gw ngedapetin ketenangan hati yang tiada tara.
dan untungnya slalu ingat sama Allah yang Maha Kuasa..
:)
DEWASA membuat gue jadi GARANG dan bukan diri gw yang sebenarnya..
tapi seengganya gw belajar jadi yang lebih kuat!
kayanya sedikit penuh tekanan yah diriku ini..
sampai ahirnya harus pulang untuk waktu yang lumayan lama smggu meninggalkan kampus beserta urusannya..
termasuk mengurusi urusan PKL..
sudah termasuk dikatakan dewasa, dengan berbagai macam tuntutan dalam 1 waktu,
dengan menghadapi realita pertemanan yang sudah tak seindah yang dikatakan pada jaman putih abu dahulu,
dan dengan kompleksitas kehidupan yang kian menekan,
YES, I'm adult now..
oh my god..
menjadi dewasa tentu keinginan setiap remaja, tapi setelah menjadi dewasa seperti ini menjadi memuakkan untuk diimpikan
YOU KNOW WHAT and WHY?
smua masalah lo bakal timbul secara bersamaan, dan smua adalah penting untuk diselesaikan
karena smua meminta pertanggungjawaban dan keputusan lo.
istilahnya mah hidup mati lo ada di tangan lo sendiri..
*glek!
pusing mumet muntah dunia berasanya sempit,
lo berasa pengen lari dari kenyataan yg ga lo sukain ini,
yaaa..
gw ngerasaain smuanya itu kemarin,
dsaat otak dan hati gw menjadi sempit dan ga terbuka..
alhamdulillah semenjak pulang, gw ngedapetin ketenangan hati yang tiada tara.
dan untungnya slalu ingat sama Allah yang Maha Kuasa..
:)
DEWASA membuat gue jadi GARANG dan bukan diri gw yang sebenarnya..
tapi seengganya gw belajar jadi yang lebih kuat!
Thursday, July 28, 2011
harga diri
Apakah harga diri atau self esteem itu? Coopersmith (Gilmore, 1974) mengemukakan bahwa: “….self esteem is a personal judgement of worthiness that is a personal that is expressed in attitude the individual holds toward himself. Pendapat ini menerangkan bahwa harga diri merupakan penilaian individu terhadap kehormatan dirinya, yang diekspresikan melalui sikap terhadap dirinya. Sementara itu, Buss (1973) memberikan pengertian harga diri sebagai penilaian individu terhadap dirinya sendiri, yang sifatnya implisit dan tidak diverbalisasikan. Merujuk pada kedua pendapat tersebut, maka harga diri dapat diartikan sebagai penilaian individu terhadap kehormatan diri, melalui sikap terhadap dirinya sendiri yang sifatnya implisit dan tidak diverbalisasikan.
Selanjutnya, Buss (1973) mengemukakan dua macam penilaian diri (self judgement) yaitu : (1) temporary dan (2) enduring. Penilaian diri temporary menunjuk pada perilaku khusus dan situasi tertentu. Contoh: “Hari ini saya bermain sepak bola jelek sekali”. Hal ini dibatasi oleh ruang dan waktu. Sedangkan penilaian diri enduring lebih berpusat dan berkaitan dengan self yang mencakup hasil dari berbagai pengalaman hidup yang mendasar, seperti: afeksi dari orang lain dan prestasi yang dicapai.
Pada bagian lain Buss (1973) mengemukakan model harga diri yang terdiri dari core dan peripheral. Core lebih bersifat permanent dan terbentuk oleh adanya kasih sayang orang tua yang tulus dan faktor konstitusional. Sedangkan peripheral bersifat stable dan terbentuk oleh prestasi yang dicapai dan afeksi dari orang lain, yang merupakan kelanjutan dari afeksi dari orang tua, bisa berasal dari teman atau cinta kasih dari lawan jenis. Terkait dengan pembentukan harga diri ini, Maslow (Jordan et.al., 1979) mengemukakan bahwa: ”The feeling self esteem can be realistic if it is soundly based upon real capacity personal ablities, achievement, and efficiency.
Untuk lebih jelasnya tentang model harga diri dari Buss ini, dapat dilihat dalam gambar berikut:
harga diri
Harga diri individu mempunyai pengaruh yang kuat terhadap perilaku yang ditampilkannya. Mc Dougall (1926) mengemukakan harga diri merupakan pengatur utama perilaku individu atau merupakan pemimpin bagi semua dorongan. Kepadanya bergantung kekuatan pribadi, tindakan dan integritas diri.
Rosenberg (Gilmore, 1974) mengemukakan karakteristik individu yang memiliki harga diri mantap yaitu memiliki kehormatan dan menghargai diri sendiri seperti adanya. Sebaliknya, individu yang memiliki harga diri rendah cenderung memiliki sikap penolakan diri, kurang puas terhadap diri sendiri, dan merasa rendah diri.
Harga diri merupakan salah satu kebutuhan penting manusia. Maslow dalam teori hierarki kebutuhannya menempatkan kebutuhan individu akan harga diri sebagai kebutuhan pada level puncak, sebelum kebutuhan aktualisasi diri. Dikemukakannya, …most normal people have a need for self respect or self esteem and the esteem of others (Jordan et.al., 1979).
Balnadi Sutadipura (1983) menyebutkan bahwa kebutuhan harga diri merupakan kebutuhan seseorang untuk merasakan bahwa dirinya seorang yang patut dihargai dan dihormati sebagai manusia yang baik. Hal senada dikemukakan Abdul Aziz Ahayadi (1985) bahwa kebutuhan harga diri sebagai kebutuhan seseorang untuk dihargai, diperhatikan dan merasa sukses. Dari kedua pendapat di atas dapat dimaknai, bahwa setiap individu normal pasti berharap dan menginginkan dapat merasakan hidup sukses, dihormati dan dihargai sebagai manusia.
Pentingnya pemenuhan kebutuhan harga diri individu, khususnya pada kalangan remaja, terkait erat dengan dampak negatif jika mereka tidak memiliki harga diri yang mantap. Mereka akan mengalami kesulitan dalam menampilkan perilaku sosialnya, merasa inferior dan canggung. Namun apabila kebutuhan harga diri mereka dapat terpenuhi secara memadai, kemungkinan mereka akan memperoleh sukses dalam menampilkan perilaku sosialnya, tampil dengan kayakinan diri (self-confidence) dan merasa memiliki nilai dalam lingkungan sosialnya (Jordan et. al. 1979)
"gatau kenapa berasa penting aja buat nyari tau apa itu harga diri dan betapa pentingnya keberadaan harga diri tersebut di kehidupan sehari-hari kita."
^just to inform u ^
Selanjutnya, Buss (1973) mengemukakan dua macam penilaian diri (self judgement) yaitu : (1) temporary dan (2) enduring. Penilaian diri temporary menunjuk pada perilaku khusus dan situasi tertentu. Contoh: “Hari ini saya bermain sepak bola jelek sekali”. Hal ini dibatasi oleh ruang dan waktu. Sedangkan penilaian diri enduring lebih berpusat dan berkaitan dengan self yang mencakup hasil dari berbagai pengalaman hidup yang mendasar, seperti: afeksi dari orang lain dan prestasi yang dicapai.
Pada bagian lain Buss (1973) mengemukakan model harga diri yang terdiri dari core dan peripheral. Core lebih bersifat permanent dan terbentuk oleh adanya kasih sayang orang tua yang tulus dan faktor konstitusional. Sedangkan peripheral bersifat stable dan terbentuk oleh prestasi yang dicapai dan afeksi dari orang lain, yang merupakan kelanjutan dari afeksi dari orang tua, bisa berasal dari teman atau cinta kasih dari lawan jenis. Terkait dengan pembentukan harga diri ini, Maslow (Jordan et.al., 1979) mengemukakan bahwa: ”The feeling self esteem can be realistic if it is soundly based upon real capacity personal ablities, achievement, and efficiency.
Untuk lebih jelasnya tentang model harga diri dari Buss ini, dapat dilihat dalam gambar berikut:
harga diri
Harga diri individu mempunyai pengaruh yang kuat terhadap perilaku yang ditampilkannya. Mc Dougall (1926) mengemukakan harga diri merupakan pengatur utama perilaku individu atau merupakan pemimpin bagi semua dorongan. Kepadanya bergantung kekuatan pribadi, tindakan dan integritas diri.
Rosenberg (Gilmore, 1974) mengemukakan karakteristik individu yang memiliki harga diri mantap yaitu memiliki kehormatan dan menghargai diri sendiri seperti adanya. Sebaliknya, individu yang memiliki harga diri rendah cenderung memiliki sikap penolakan diri, kurang puas terhadap diri sendiri, dan merasa rendah diri.
Harga diri merupakan salah satu kebutuhan penting manusia. Maslow dalam teori hierarki kebutuhannya menempatkan kebutuhan individu akan harga diri sebagai kebutuhan pada level puncak, sebelum kebutuhan aktualisasi diri. Dikemukakannya, …most normal people have a need for self respect or self esteem and the esteem of others (Jordan et.al., 1979).
Balnadi Sutadipura (1983) menyebutkan bahwa kebutuhan harga diri merupakan kebutuhan seseorang untuk merasakan bahwa dirinya seorang yang patut dihargai dan dihormati sebagai manusia yang baik. Hal senada dikemukakan Abdul Aziz Ahayadi (1985) bahwa kebutuhan harga diri sebagai kebutuhan seseorang untuk dihargai, diperhatikan dan merasa sukses. Dari kedua pendapat di atas dapat dimaknai, bahwa setiap individu normal pasti berharap dan menginginkan dapat merasakan hidup sukses, dihormati dan dihargai sebagai manusia.
Pentingnya pemenuhan kebutuhan harga diri individu, khususnya pada kalangan remaja, terkait erat dengan dampak negatif jika mereka tidak memiliki harga diri yang mantap. Mereka akan mengalami kesulitan dalam menampilkan perilaku sosialnya, merasa inferior dan canggung. Namun apabila kebutuhan harga diri mereka dapat terpenuhi secara memadai, kemungkinan mereka akan memperoleh sukses dalam menampilkan perilaku sosialnya, tampil dengan kayakinan diri (self-confidence) dan merasa memiliki nilai dalam lingkungan sosialnya (Jordan et. al. 1979)
"gatau kenapa berasa penting aja buat nyari tau apa itu harga diri dan betapa pentingnya keberadaan harga diri tersebut di kehidupan sehari-hari kita."
^just to inform u ^
Subscribe to:
Posts
(
Atom
)

