Friday, September 20, 2013

Alhamdulillah~

terima kasih ya Allah..Engkau kabulkan doaku untuk ke sekian kalinya...
ahirnyaaa..aku SARJANA!! hihiii..
bahagianya tidak terperi..
senang bisa menunaikan amanah ibu dan bapa..
senang bisa menyelesaikan ini semua, setelah 5 tahun...ahirnya penantian ini terjawab sudah..
sekarang berusaha untuk bisa bersaing mendapat pekerjaan..

terima kasih 5 tahun ini, almamaterku UNSOED
terima kasih Purwokerto, Purbalingga... tidak terasa sudah harus aku tinggalkan di minggu ini..smoga kedua kota itu tetap menjadi kota kenangan saat aku kembali suatu saat nanti.. :')







Tuesday, February 19, 2013

Mahatuasiswa~~

oraiit,,,lamaa sekali gue ga nulis blog :D ini efek apa yaaa?
terakhir yang gue posting cuma re-post dari orang aja..biar ga sepi-sepi amat di tahun 2013 ini blog gue..
hahaaa

aktivitas gue 1 semester terakhir ini *alias 6bulan lamanya* adalah mengerjakan skripsi yang tak kunjung entah dimana ujungnyaaaaa~~
bahan ada, sudah mengerti maksud dari materi skripsi gue sendiri..
hanyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa sajaaaaa
terlalu banyak "X factor" berlalu lalang di sekitar gueee...
tapi tetep bersyukur karena dibalik x-factor itu mungkin Allah punya segudang rencana buat guee...wlopun sampe sekarang gue ga tau apaa ituu...let see ..di masa yang akan datang..

masih agak gerah karena ingin cepat lulus,,
ingin segera menunaikan dan menuntaskan amanah orang tua untuk menjadi sarjana..
tapi yaa mungkin ini lah prosesnya...
dengan serba banyak berlatih sabar dan memanage otak hati juga kondisi fisik serta kehidupan sosial yang lain agar masih tetap seimbang pada tempatnya..

menginginkan 1 impian terdekat itu segera terwujud,
menahan diri dan melawan keinginan sendiri itu memang melelahkan,
gue ga pernah dituntut lulus cepat oleh orang tua,
tapi, tuntutan dari diri sendiri itu yang sangat menyiksa...

(~_______________~)

hope everythings gonna be alright.........

Tuesday, January 29, 2013

S-a-r-j-a-n-a : dilemma

entah mengapa ingin sekali me-repost artikel ini :) mungkin karena saya sebentar lagi sarjana ya..hehe smoga bermanfaat untuk saya dan pembaca blog saya.. dengan harapan saya juga akan menjadi sarjana secepatnya...aaamiiinnnn
Sarjana Semestinya Bermartabat! Risalah Sarjana,
oleh *Sartika Dian Nuraini dimuat oleh harian Kompas, 16 Januari 2013 ———-

 Sarjana adalah potret terang di depan kamera. Ia menyungging senyum semringah, memakai toga dan baju kebesaran, dengan latar belakang lukisan buku-buku berjilid klasik yang sangat jarang ada di Indonesia, ditambahi kehangatan senyum anggota keluarga. Foto itu kelak adalah tanda sejarah yang meneguhkan keberadaan hingga prestise seseorang, bahkan seluruh keluarganya. Klik! Kesarjanaan adalah perayaan kerumunan dan keramaian, pengeras suara, acara makan bersama, dan doa. Dalam proses pengesahan seorang sarjana dalam wisuda. Kegirangan dan keceriaan dengan mengabsenkan keheningan dan kekhusyukan. 

Perayaan kesarjanaan bukan perayaan literasi. Kata-kata tidak lagi menjadi pengesahan kesarjanaan sebagai bentuk sumbangan pemikiran bagi peradaban. Setiap tahun, ribuan orang boleh saja ditahbiskan menjadi sarjana, tetapi sungguh sangat sedikit yang akan meninggalkan kata-kata yang berharga hasil permenungan, pengendapan dalam pikiran, dan kegelisahan intelektualitas kesarjanaan. Tak ada tagihan moral dan akademis tentang keilmuan, intelektualitas, kecendekiaan, serta kemanusiaan yang bersifat sosial, politik, pendidikan, dan budaya. Manusia ekonomistik Sebagai gantinya, menjadi sarjana adalah menjadi manusia ekonomistik. Sarjana adalah manusia pencari dan pencetak uang bagi keluarga, masyarakat, dan negara. Maka, pengesahan dilakukan dengan mencari kerja. Pengukuhan seseorang menjadi sarjana disempurnakan dengan menjadi pekerja. Kutukan seorang sarjana jika dirinya menganggur. Orangtua, lembaga pendidikan, masyarakat, dan negara akan menagih seorang sarjana untuk cepat-cepat menjadi manusia pencari kerja. Maka, para sarjana bergerak dan berjejal menjadi manusia pelamar kerja dalam bursa kerja. Dalam kerumunan di bursa kerja ini, tak perlu lagi membedakan latar belakang studi sastra, teknik, politik, sejarah, dan lain-lain. Tak penting ilmu yang mereka pelajari di kampus selama beberapa tahun, toh perusahaan juga sadar bahwa sarjana itu harus dididik lagi agar sesuai dengan dunia kerja. Di Indonesia, menjadi sarjana adalah menjadi manusia kota dan menjadi manusia kantoran. Dalam imajinasi mereka, sarjana adalah manusia tanpa keringat, manusia yang enggan melipatkan lengan baju ke atas, manusia yang enggan menyentuh tanah. Biografi sarjana Indonesia mengesankan bahwa menjadi sarjana adalah manusia yang enggan pulang membangun tempat asalnya.

 Soedjatmoko (1972) pernah mengatakan, ”Lulusan universitas-universitas di Indonesia makin lama makin berorientasi pada kota-kota. Harapan mereka tentang karier, tingkat hidup, serta gaya hidup seolah-olah terikat pada kota. Padahal, sudah menjadi terang bahwa sebagian kemampuan kita harus kita memanfaatkan tidak hanya untuk memperluas sektor modern, tetapi juga untuk menggairahkan kembali dan memperkuat kehidupan di desa-desa.” Masuk perguruan tinggi adalah jalan meninggalkan desa-desa dengan menjadi manusia kantor mewarisi rasa elite-birokrat yang priayi. Namun, saat bekerja, sebagian besar makna kerja perlahan mulai menghilangkan rasa kemanusiaan, keilmuan, religiusitas. Semua hal yang sakral dan vital itu akan terpinggirkan oleh pamrih uang dan gengsi sosial. Kerja yang merakyat dianggap merendahkan. Mereka alpa makna bekerja. Kehilangan martabat Makna pendidikan dalam bekerja terasa kabur dan dangkal. Latar belakang dan jenjang pendidikan di Indonesia sepertinya sudah tidak memartabatkan. Kita telah kehilangan figur sarjana dalam arti keilmuan dan pengabdian sebagai laku kesarjanaan. Suluh dan risalah pemartabatan manusia menguap dalam mentalitas dan etos kesarjanaan yang kian memudar dan buram. Sarjana kini adalah hamba ekonomi dan bisa melakukan apa pun untuk memenuhinya, menjual martabat ilmu, menggadaikan kemanusiaan, dan mengubur etos belajar. Saya teringat sajak Agus R Sarjono berjudul Sajak Palsu yang ditulis tahun 1998: ”Masa sekolah demi masa sekolah berlalu, mereka pun lahir sebagai ekonom-ekonom palsu, ahli hukum palsu, ahli pertanian palsu, insinyur palsu, sebagian menjadi guru, ilmuwan atau seniman palsu.” Sarjana semestinya bermartabat!
 *Penyair, Anggota Bale Sastra Indonesia-Solo 

 link : http://www.kopertis12.or.id/2013/01/16/sarjana-semestinya-bermartabat.html